Belajar sambil bermain adalah konsep yang sudah lama digaungkan oleh para ahli pendidikan, dan kini kembali menguat berkat wacana dari Kak Seto Mulyadi. Gagasan untuk menjadikan kegiatan bermain anak sebagai bagian integral dari materi pelajaran di sekolah ini menawarkan angin segar bagi dunia pendidikan yang seringkali terjebak dalam metode konvensional. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan, efektif, dan sesuai dengan fitrah anak-anak.
Kak Seto, sebagai tokoh yang sangat peduli terhadap hak dan perkembangan anak, berulang kali menekankan bahwa bermain adalah sarana utama anak untuk menjelajahi dunia dan memahami konsep-konsep baru. Dalam sebuah diskusi interaktif dengan guru-guru di sebuah sekolah dasar di Jakarta Selatan pada Selasa, 15 Mei 2024, Kak Seto menyatakan, “Ketika anak bermain, otaknya bekerja secara aktif, mereka bereksperimen, memecahkan masalah, dan berinteraksi. Inilah inti dari belajar sambil bermain.” Menurutnya, memisahkan aktivitas bermain dari proses belajar adalah sebuah kekeliruan, sebab keduanya saling melengkapi.
Implementasi konsep belajar sambil bermain dalam kurikulum sekolah tentu membutuhkan perubahan mendasar dalam pendekatan pedagogis. Guru perlu dilatih untuk merancang kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, yang mengintegrasikan elemen permainan tanpa mengurangi esensi materi. Contohnya, pelajaran matematika bisa diajarkan melalui permainan kartu atau teka-teki, sementara ilmu pengetahuan alam dapat dipelajari melalui eksperimen sederhana yang menyerupai permainan. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PDM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Harsono, dalam pidatonya pada acara “Hari Pendidikan Nasional” 2 Mei 2025, menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam metode pengajaran agar relevan dengan karakteristik siswa.
Manfaat dari belajar sambil bermain ini sangatlah signifikan. Pertama, meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Anak-anak yang merasa senang dan terlibat aktif cenderung lebih mudah menyerap informasi dan mengingat pelajaran. Kedua, mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Ketiga, mengurangi tekanan dan stres yang seringkali dialami siswa akibat tuntutan akademik yang tinggi. Permainan juga memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi dan mengembangkan kecerdasan emosional.
Meskipun tantangan dalam mengimplementasikan konsep belajar sambil bermain cukup besar, seperti perubahan kurikulum, pelatihan guru, dan dukungan orang tua, potensi manfaatnya jauh lebih besar. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang adaptif, inovatif, dan bahagia dalam proses belajarnya.