Membangun budaya kedisiplinan dan kepedulian di kalangan siswa seringkali membutuhkan lebih dari sekadar peraturan; dibutuhkan tradisi yang kuat dan mengikat. SMK Nahdlatul Ulama (SMK NU) telah berhasil menciptakan tradisi yang menarik dan efektif melalui “Berkah Jumat Bersih,” sebuah Tradisi Kerja Bakti yang dirancang untuk menanamkan tanggung jawab kolektif dan menciptakan lingkungan sekolah yang selalu prima. Program ini bukan sekadar rutinitas bersih-bersih biasa; ia adalah ritual sosial dan pendidikan karakter yang membentuk etos kerja siswa.
Inti dari “Berkah Jumat Bersih” adalah mengubah Tradisi Kerja Bakti dari tugas yang membosankan menjadi kegiatan komunal yang dinantikan. Kuncinya terletak pada penerapan Zona Kompetisi Sehat. Seluruh area sekolah dibagi menjadi zona-zona tanggung jawab, dan setiap zona diawasi oleh tim penilai yang terdiri dari guru dan perwakilan siswa. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kebersihan, tetapi juga pada kreativitas dalam pemeliharaan dan efisiensi kerja tim. Kelompok atau kelas yang zona tanggung jawabnya dinilai paling bersih dan inovatif setiap bulan akan mendapatkan reward sosial yang menarik, seperti makan siang bersama guru, pengakuan di website sekolah, atau bahkan jam bebas belajar. Aspek kompetitif yang sehat ini membuat Kerja Bakti menjadi menarik.
Elemen “Berkah” dalam program ini merujuk pada integrasi nilai-nilai keagamaan dan sosial. Sebelum memulai kegiatan fisik, Tradisi Kerja Bakti ini selalu diawali dengan pembacaan doa bersama dan refleksi singkat tentang pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman (thaharah). Hal ini memberikan dimensi spiritual dan motivasi moral pada aktivitas tersebut. Siswa belajar bahwa Kerja Bakti adalah bentuk pengabdian sosial dan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan bersama, bukan hanya memenuhi kewajiban sekolah.
Selain itu, program “Berkah Jumat Bersih” mendorong siswa untuk berinovasi dalam memecahkan masalah lingkungan sederhana. Misalnya, siswa jurusan teknik sering diminta untuk membuat solusi cepat (quick fixes) untuk kerusakan kecil di area mereka, seperti memperbaiki keran bocor atau mengencangkan baut meja yang longgar. Hal ini mengubah siswa menjadi aktor proaktif dalam pemeliharaan fasilitas sekolah. Melalui Tradisi Kerja Bakti yang terstruktur, bermuatan kompetisi, dan didasari nilai moral, SMK Nahdlatul Ulama berhasil menciptakan budaya sekolah yang disiplin dan peduli, menjadikan hari Jumat sebagai momentum untuk meraih Berkah Jumat Bersih sekaligus menguatkan karakter siswa.