Kurikulum Merdeka telah menjadi salah satu inisiatif paling signifikan dalam lanskap pendidikan Indonesia beberapa tahun terakhir. Namun, pemahaman yang komprehensif tentang kurikulum ini memerlukan peninjauan dari konteks yang lebih luas, yaitu Gerakan Reformasi Pendidikan Global (GERM) dan dampaknya terhadap sistem pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Gerakan ini, yang sering kali didorong oleh lembaga-lembaga internasional, memiliki pilar-pilar tertentu yang secara implisit maupun eksplisit memengaruhi arah kebijakan pendidikan nasional, termasuk pengembangan Kurikulum.
Gerakan Reformasi Pendidikan Global (GERM), yang mulai muncul pada tahun 1980-an, mengusung beberapa pilar utama, di antaranya adalah standarisasi, fokus pada mata pelajaran inti seperti literasi dan numerasi, pendekatan risiko rendah terhadap tujuan pendidikan, model manajemen korporat dalam pendidikan, dan akuntabilitas eksternal melalui tes standar. PISA (Program for International Student Assessment) adalah salah satu alat yang sering digunakan untuk mengukur capaian pendidikan global dan menjadi indikator bagi reformasi ini. Hasil PISA 2022, yang dirilis pada 5 Desember 2023, menunjukkan bahwa meskipun peringkat Indonesia sedikit meningkat dibandingkan 2018, skor keseluruhan justru menurun. Hal ini menjadi cerminan bahwa tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan masih besar, dan Kurikulum Merdeka diharapkan dapat menjawab hal tersebut.
Pengaruh GERM terhadap Kurikulum Merdeka dapat dilihat dari beberapa aspek. Fokus pada literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar yang krusial, misalnya, adalah salah satu poin sentral dari GERM yang kini menjadi penekanan kuat dalam Kurikulum Merdeka. Konsep pembelajaran berdiferensiasi dan projek penguatan profil pelajar Pancasila yang diusung Kurikulum Merdeka juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk memberikan fleksibilitas sekaligus memastikan pencapaian kompetensi inti yang terukur. Misalnya, pada 20 April 2024, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengeluarkan panduan terbaru yang menekankan penerapan projek lintas mata pelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa.
Namun, implementasi Kurikulum Merdeka juga menghadapi tantangannya sendiri dalam konteks Indonesia yang beragam. Diperlukan adaptasi yang cermat agar prinsip-prinsip global dapat sesuai dengan konteks lokal dan keberagaman karakteristik siswa. Pada akhirnya, keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak hanya akan diukur dari peningkatan skor PISA, tetapi juga dari kemampuannya untuk menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan, relevan, dan mampu melahirkan generasi yang berdaya saing global sekaligus memiliki karakter Pancasila.