Program pelatihan jurnalistik ini dilaksanakan secara intensif dengan menghadirkan para praktisi media berpengalaman sebagai mentor utama. Siswa diajarkan mulai dari dasar-dasar pencarian berita (news gathering), teknik wawancara yang efektif, hingga etika jurnalistik yang menjunjung tinggi kebenaran dan objektivitas. Bagi banyak siswa, ini adalah pengalaman pertama mereka memahami bahwa sebuah tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah instrumen yang memiliki kekuatan untuk memberikan edukasi dan pengaruh positif bagi para pembacanya di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.
Aktivitas utama dalam pelatihan di SMK Nahdatul Ulama ini ditekankan pada praktik lapangan. Siswa diminta untuk meliput berbagai kegiatan sekolah, mulai dari acara olahraga hingga inovasi di bengkel praktik, kemudian mengolahnya menjadi berita yang menarik. Dalam proses ini, mereka belajar bagaimana menentukan sudut pandang (angle) berita yang unik agar informasi yang disampaikan tidak monoton. Guru pembimbing memberikan masukan secara mendetail pada setiap draf tulisan, sehingga siswa benar-benar memahami struktur penulisan piramida terbalik dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik serta benar sesuai dengan kaidah jurnalistik modern.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berupaya keras untuk asah kemampuan menulis setiap peserta agar lebih tajam dan analitis. Menulis bukan hanya soal bakat, melainkan sebuah keterampilan yang bisa dipelajari melalui disiplin dan latihan yang konsisten. Siswa diajak untuk berani menuangkan ide, kritik, dan gagasan kreatif mereka ke dalam majalah dinding sekolah dan platform digital milik sekolah. Hal ini secara otomatis meningkatkan rasa percaya diri siswa saat harus mempresentasikan ide atau laporan di hadapan orang banyak, sebuah keterampilan soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia industri mana pun saat ini.
Kehadiran unit kegiatan jurnalistik ini juga berfungsi sebagai humas internal bagi sekolah. Berita-berita positif mengenai prestasi siswa dan kegiatan pengabdian masyarakat dapat tersebar secara lebih terorganisir dan profesional. Hal ini berdampak pada meningkatnya citra sekolah di mata publik dan calon wali murid. Selain itu, para peserta pelatihan memiliki wadah untuk menyalurkan hobi mereka, sehingga mereka merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk terus berkarya. Jurnalistik mengajarkan mereka untuk selalu ingin tahu, teliti dalam mengecek fakta, dan disiplin dalam memenuhi tenggat waktu (deadline).